Syiahindonesia.com - Pada tahun 1193 H/1779 M, Agha Muhammad Gajar mengambil alih kekuasaan di Iran. Agha adalah keturunan Persia asli yang bermazhab Syi’ah, meskipun ia cenderung kepada sekuler, ia tidak mengajak orang kepada madzhab Itsna Asyariyah dan tidak memerintah dengan ajaran tersebut. Anak cucunya silih berganti memegang tumpuk pemerintahan di Iran, dengan wilayah yang mengalami pasang-surut, mereka menggunakan gelar ‘Shah’, hingga keluarga ini jatuh saat Reza Pahlevi mengadakan pemberontakan terhadap mereka tahun 1343 H/1925 M.

Kemudian Reza Pahlevi mengumumkan dirinya sebagai Shah Iran atas bantuan Inggris, namun Inggris menjatuhkan pemerintahannya tahun 1941 M, karena adanya perselisihan di antara mereka. Inggris melengserkannya dan menggantikan dengan puteranya bernama Muhamad Reza Pahlevi, yang menjadi penguasa sekuler Iran hingga tahun 1399 H/1979 M. Setelah itu mencetuslah Revolusi Syi’ah Itsna Asyariyah yang dipimpin Khumaini untuk mengukuhkan kembali kekuasaan Syi’ah di wilayah Persia (Iran).

Demikianlah kisah kekuasaan Syi’ah di dunia Islam semenjak lahirnya sekte-sekte Syi’ah hingga zaman kita sekarang.



Baca artikel  selengkapnya di SEJARAH KARBALA tafhadol
Maka, jelaslah bagi kita bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan Syi’ah, semuanya muncul dalam bentuk pemberontakan terhadap pemerintahan Sunni. Mereka selalu berkedok agama dengan mengaku cinta kepada Ahlulbait atau keturunan mereka.

Bahkan kita menyaksikan dalam seluruh periode tadi, tidak pernah sekalipun terjadi peperangan antara sekte-sekte Syi’ah dengan musuh-musuh Islam, baik dari kalangan Salibis Rusia, Inggris, Perancis atau Portugis, maupun terhadap bangsa Tartar dan lainnya, bahkan disepanjang sejarah mereka saling bekerjasama dengan musuh-musuh Islam.

Meskipun demikian, kita tidak boleh menyalahkan generasi sekarang akibat kesalahan para pendahulu mereka, akan tetapi kita berupaya mendiskusikan akidah,

pemikiran, dan manhaj mereka yang sama persis dengan akidah, pemikiran, dan manhaj para pendahulu mereka. Inilah problem utama dan akar masalahnya…

Selama mereka masih meyakini kepemimpinan harus dipegang oleh keturunan tertentu, meyakini para imam itu ma’shum, menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman dan seluruh sahabat bahkan Ummahatul Mukminin …  Selama hal itu masih mereka lakukan, maka kita tidak boleh berprasangka baik kepada mereka. Akan tetapi kita harus mengatakan bahwa anak keturunan mereka masih mengikuti ajaran para pendahulunya…
Menurut Anda,

Bagaimana sikap kita terhadap syi’ah?

Bagaimana mungkin kita bermuamalah dengan mereka?

Apakah diam lebih baik bagi kita atau kita jelaskan apa adanya?

Apakah sebaiknya kita acuhkan masalah ini ataukah kita pelajari? (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga: Mengenal Sekte Syiah Isma'iliyah Bag. 1
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: